MAKALAH MODEL DAN STRATEGI
PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING
Makalah ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah model dan strategi pembelajaran PAI

Disusun Oleh:
Al
khoriah
NIM :6571010115121
Nurmah
Dosen Pengampu :
Mujazi, M. Pd
SEKOLAH TINGGI
ILMU TARBIYAH OTTO ISKANDAR DINATA (OTISTA)
TANGERANG SELATAN
2017
BAB
1
PENDAHULUAN
Dalam kegiatan belajar mengajar daya serap peserta didik tidaklah
sama. Dalam menghadapi perbedaan tersebut, strategi pengajaran yang
tepat sangat dibutuhkan. Metode pembelajaran merupakan salah satu strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru
untuk menghadapi masalah tersebut sehingga pencapaian tujuan pengajaran dapat
tercapai dengan baik. Dengan pemanfaatan metode yang efektif dan efisien, guru
akan mampu mencapai tujuan pengajaran. Proses belajar-mengajar yang baik,
hendaknya mempergunakan berbagai jenis metode pembelajaran secara bergantian
atau saling bahu membahu satu sama lain.
Berikut ini akan kami bagikan model dan strategi pembelajaran aktif (Active learning)atau yang sring kita kenal dengan sebutan Strategi PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Metode PAIKEM sebagai alternatif yang dapat digunakan oleh guru untuk dapat mengaktifkan peserta didik, baik secara individu maupun kelompok.
Berikut ini akan kami bagikan model dan strategi pembelajaran aktif (Active learning)atau yang sring kita kenal dengan sebutan Strategi PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Metode PAIKEM sebagai alternatif yang dapat digunakan oleh guru untuk dapat mengaktifkan peserta didik, baik secara individu maupun kelompok.
BAB ll
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Aktif
Pembelajaran Aktif dapat didefinisikan
sebagai: pendekatan mengajar ( approach to teaching ) yang
digunakan bersama metode tertentu dan berbagai media pengajaran yang disertai
dengan penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi
aktif dengan demikian, para siswa merasa tertarik dan mudah menyerap
pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan. selain itu, Pembelajaran Aktif
juga memungkinkan siswa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan
sikap, pemahaman, dan keterampilannya sendiri dalam arti tidak semata-mata
“disuapi” guru. [1]
Pembelajaran Aktif dimaksudkan bahwa
dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa
sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan.
Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun
pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru
tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa
untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat
belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan
generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan
dirinya dan orang lain. Pengembang pembelajaran ini beranggapan bahwa belajar
merupakan proses aktif merangkai pengalaman untuk memperoleh pemahaman baru.
Siswa aktif terlibat di dalam proses belajar mengkonstruksi sendiri
pemahamannya. Teori belajar konstruktivisme merupakan titik berangkat
pembelajaran ini. Atas dasar itu pembelajaran ini secara sengaja dirancang agar
mengaktifkan anak. [2]
Dapat dimengerti bahwa Pembelajaran
Pembelajaran Aktif adalah sebuah pembelajaran yang memungkinkan peserta didik
untuk mengerjakan kegiatan yang beragam dalam rangka mengembangkan keterampilan
dan pemahamannya, dengan penekanan peserta didik belajar sambil bekerja,
sementara guru menggunakan berbagai sumber dan alat bantu belajar (termasuk
pemanfaatan lingkungan), supaya pembelajaran lebih menarik, dan efektif.[1]
B. Dasar
Pembelajaran Aktif
Pembelajaran sebagai usaha sadar yang
sistematik selalu bertolak dari landasan dan mengindahkan sejumlah asas-asas
tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat penting, karena pembelajaran
merupakan pilar utama terhadap pengembangan manusia dan masyarakat.
Beberapa landasan pembelajaran adalah
sebagai berikut:
1. Landasan
Religius Islami berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah
a. Al-Quran
al-Quran adalah kalam Allah yang
menjadi sumber segala hukum dan menjadi pedoman pokok dalam kehidupan, termasuk
membahas tentang pembelajaran. Dalam Al-Quran banyak sekali ayat yang
berhubungan dengan pembelajaran dan metode pembelajaran. Ayat pertama (lima ayat
yang merupakan wahyu pertama) berbicara tentang keimanan dan pembelajaran, QS
al-Alaq:1-5
Terjemahnya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,
dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.[3]
Kata (اقر ا) Iqra terambil
dari akar kata kerja (قرا) qara’a yang
Pada mulanya berarti menghimpun. Apabila anda merangkai huruf atau kata
kemudian anda mengucapkan rangkaian tersebut maka anda telah menghimpunnya
yakni membacanya. Dengan demikian realisasi perintah tersebut tidak
mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus
diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. [4]
Awal surah diatas , allah telah
memperkenalkan diri sebagai yang Mahakuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Pemurah.
Pengetahuannya meliputi segala sesuatu. Dan pada ayat ke 4-5 diatas menjelaskan
dua cara yang ditempuh Allah swt. Dalam mengajar manusia. Pertama melalui pena
(tulisan) yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran
secara langsung tanpa alat.
Lima ayat tersebut merupakan ayat
pertama yang diterima nabi muhammad SAW, yang diantaranya berbicara
tentang perintah kepada semua manusia untuk selalu menelaah, membaca, belajar
dan observasi ilmiah tentang penciptaan manusia dengan sendirinya.
b. Hadist
Nabi/as-sunnah
Hadist ini berbicara tentang metode
pembelajaran, yaitu bahwa pembelajaran itu harus menggunakan metode yang tepat
disesuaikan dengan situasi dan kondisi, terutama dengan mempertimbangkan
keadaan orang yang akan belajar. Selain itu proses pembelajaran harus dibuat dengan
mudah dan sekaligus menyenagkan agar siswa tidak tertekan secara psikologis dan
merasa bosan terhadap suasana di kelas serta apa yang diajarkan oleh gurunya.
Hal ini sesuai dengan sabda Rasullullah Saw yang diriwayatkan Bukhari dari Anas
RA yaitu:
Artinya:
c. Landasan
Filosofis
Landasan Filosofis merupakan landasan
yang berkaitan dengan makna atau hakikat pembelajaran, yang berusaha menelaah
masalah-masalah pokok seperti: Apakah pembelajaran itu? Mengapa pembelajaran
itu diperlukan? Apa yang seharusnya menjadi tujuanya? Dan sebagainya. Landasan
Filosofis merupakan landasan yang berdasarkan atau bersifat Filsafat (filsafat,
filsafah). Terdapat kaitan yang erat antara pembelajaran dengan filsafat,
karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat,
sedangkan pembelajaran berusaha mewujudkan citra tersebut. Hal ini sangatlah
penting karena hasil pembelajaran tidak segera tampak, sehingga setiap
keputusan dan tindakan itu harus diyakinkan kebenaran dan ketepatanya meskipun
hasilnya masih belum dapat dipastikan.[6]
d. Landasan
Sosiologis
Manusia selalu hidup berkelompok,
sesuatu yang juga terdapat pada makhluk hidup lainnya, yaitu hewan maupun
tumbuhan. Meskipun demikian, pengelompokan manusia jauh lebih rumit dari pada
pengelompokan hewan. Kehidupan sosial manusia tersebut dipelajari oleh
filsafat, yang berusaha mencari hakikat masyarakat yang sebenarnya. Filsafat
sosial sering membedakan antara manusia sebagai individu dan manusia sebagai
masyarakat. Kegiatan pendidikan atau pembelajaran merupakan suatu proses
interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi, yang memungkinkan generasi
muda mengembangkan diri. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga
sekolah yang dengan sengaja dibentuk oleh masyarakat. Perhatian sosiologi
pada kegiatan pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatkan perhatian
sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut maka lahirlah cabang sosiologi
pendidikan. Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses
sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup
yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang.[7] Yaitu:
1. Hubungan
sistem pendidikan dengan aspek masyarakat.
2. Hubungan
kemanusiaan disekolah.
3. Pengaruh
sekolah pada prilaku anggotanya.
4. Sekolah
dalam komunitas, yang mempelajari pola interaksi antar sekolah dengan kelompok
sosial lain di dalam komunitasnya.
e. Landasan
Psikologis
5. Motivasi
siswa
Tujuan pembelajaran pada hakikatnya adalah
diperolehnya perubahan tingkah laku individu. Perbuatan tersebut merupakan
akibat dari perbuatan belajar. Ciri-ciri dari tingkah laku yang diperoleh dari
hasil belajar adalah: Banyak faktor yang yang termasuk aspek psikologis yang
dapat mempengaruhi kuantitas serta kualitas hasil pembelajaran peserta didik.
Namun, diantara faktor-faktor rohaniah peserta didik yang pada umumnya
dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:
1. Tingkat
kecerdasan atau inteligensi siswa
2. Sikap
siswa
3. Bakat
siswa
4. Minat
siswa
1. Terbentuknya
tingkah laku baru berupa kemampuan aktual dan potensional.
2. Kemampuan
baru tersebut berlaku dalam waktu yang relatif lama.
3. Kemampuan
baru tersebut diperoleh melalui usaha.[8]
Peserta didik atau siswa-siswi dalam
suatu pembelajaran biasanya memiliki kemampuan beragam, ada yang memiliki
tingkat kepandaian yang tinggi, sedang, bahkan ada yang kurang. Menurut
pandangan psikologi pendidikan, sebenarnya tidak ada peserta didik yang pandai
atau bodoh, yang lebih tepat adalah peserta didik dengan kemampuan lambat atau
cepat dalam belajar. Dalam materi yang sama, bagi peserta didik satu memerlukan
dua kali pertemuan untuk memahami isinya, namun bagi peserta didik lain perlu
empat kali pertemuan dalam menyerapnya. karena itu, pendidik perlu mengatur
kapan peserta didik bekerja secara perseorangan, berpasangan, atau klasikal.
Jika harus dibentuk kelompok, kapan peserta didik dikelompokkan berdasarkan
kemampuannya sehingga ia dapat berkonsentrasi membantu peserta didik yang
kurang, dan kapan peserta didik dikelompokkan secara campuran berbagai
kemampuan sehingga terjadi tutor sebaya (peer theaching). Ada setidaknya
10 macam formasi kelas dalam kerangka mendukung implementasi pembelajaran
aktif. Setting atau formasi kelas berikut ini tidak dimaksudkan untuk menjadi
susunan yang permanen, namun hanya sebagai alternatif dalam penataan ruang
kelas. Jika meubeler (meja atau kursi) yang ada diruang kelas dapat dengan
mudah dipindah-pindah, maka sangat mungkin menggunakan beberapa formasi ini
sesuai dengan situasi dan kondisi yang diinginkan pendidik. Adapun beberapa
formasi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Formasi
huruf U
Formasi
ini dapat berbagai tujuan. Para peserta didik melihat pendidik atau media
visualnya dengan mudah dan mereka juga dapat saling berhadapan langsung satu
dengan yang lain. Susunan ini ideal untuk membagi bahan pelajaran kepada
peserta didik secara cepat karena pendidik dapat masuk kedalam huruf U dan
berjalan ke berbagai arah dengan seperangkat materi.
2. Formasi
Corak Tim
Pendidik
mengelompokkan meja-meja setengah lingkaran diruang kelas agar memungkinkan
peserta didik untuk melakukan interaksi tim. Pendidik dapat meletakkan
kursi-kursi mengelilingi meja-meja untuk susunan yang paling akrab. Jika hal
ini dilakukan, beberapa peserta didik harus memutar kursi mereka melingkar
menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru, papan tulis atau media
lainnya.
3. Meja
Konferensi
Formasi
ini paling baik dilakukan jika meja berbentuk persegi panjang. Susunan ini
dapat mengurangi peran penting peserta didik.
4. Formasi
Lingkaran
Para
peserta didik duduk pada sebuah lingkaran tanpa atau dengan meja kursi untuk
melakukan interaksi berhadap-hadapan langsung.
5. Kelompok
Untuk Kelompok
Susunan
ini memungkinkan pendidik untuk melakukan diskusi atau untuk menyusun permainan
peran, berdebat atau observasi dari kreatifitas kelompok. Pendidik dapat
meletakkan meja pertemuan ditengah-tengah, yang dikelilingi oleh kursi-kursi
pada sisi luarnya.
6. Tempat
kerja (workstation)
Susunan
ini tepatnya untuk lingkungan tipe laboratorium, dimana setiap peserta didik
duduk pada tempat untuk mengerjakan tugas.
7. Pengelompokan
Terpisah (breakrout groupings)
Jika
kelas cukup besar atau jika ruangan memungkinkan, pendidik dapat meletakkan
meja dan kursi dimana kelompok kecil dapat melakukan aktifitas belajar
didasarkan pada tim. Pendidik dapat menempatkan susunan pecahan-pecahan
kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidk saling mengganggu. Tetapi
hendaknya dihindari penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh
dari ruang kelas, sehingga hubungan diantara peserta didik sulit dijaga.
8. Susunan
Chevron
Sebuah
susunan ruang kelas tradisional tidak memungkinkan untuk melakukan belajar
aktif. Jika terdapat banyak peserta didik (30 atau lebih) dan hanya tersedia
beberapa meja, barangkali pendidik perlu menyusun peserta didik dalam bentuk
ruang kelas. Susunan V mengurangi jarak antara peserta didik, pandangan lebih
baik dan lebih memungkinkan untuk melihat peserta didik lain dari pada baris
lurus.
9. Kelas
Tradisional
Jika
tidak ada cara untuk membuat lingkaran dari baris lurus yang berupa meja-kursi,
pendidik dapat mencoba mengelompokkan kursi dalam pasangan-pasangan yang
menmungkinkan menggunakan teman belajar. Pendidik dapat mencoba membuat nomor
genap dari barisbaris ruangan yang cukup diantara mereka semua.
10.Auditorium/Aula
Formasi
auditorium atau aula merupakan tawaran alternatif dalam menyusun ruangan kelas.
Meskipun bentuk auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk
belajar aktif, namun hal ini dapat dicoba untuk dilakukan pendidik guna
mengurangi kebosanan peserta didik yang terbiasa dalam penataan ruang secara
konvensional (tradisional).[9]
Berikut akan disajikan model
dan strategi pembelajaran Pembelajaran Aktif sebagai alternatif yang
digunakan pendidik untuk dapat mengaktifkan peserta didik, baik secara individu
maupun kelompok. Pendidik diharapkan dapat melakukan pengembangan, modifikasi,
improfisasi atau mencari strategi atau model lain yang dipandang lebih tepat.
Berikut ini adalah beberapa contoh model Pembelajaran Aktif yang akan digunakan
dalam pembelajaran adalah:
1. Every
One Is Teacher Here (Setiap murid menjadi guru) tujuan dari
implementasi model ini adalah membiasakan peserta didik untuk belajar aktif
secara individu dan membudayakan sifat berani bertanya, tidak minder, dan tidak
takut salah.
2. Writing
In Here And Now (Menulis pengalaman secara langsung) menulis dapat
membantu peserta didik merefleksikan pengalamanpengalaman yang telah mereka alami.
3. Reading
Aloud (Strategi membaca dengan keras) membaca sesuatu teks dengan
keras dapat membantu peserta didik memfokuskan perhatian secara mental,
menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dan merangsang diskusi dalam kelas.
4. The
Power Of Two And Four (Menggabung dua dan empat kekuatan) tujuan dari
implementasi model ini adalah membiasakan belajar aktif secara individu dan
kelompok (belajar bersama hasilnya lebih berkesan).
5. Information
Search (Mencari informasi) tujuan dari implementasi model ini adalah
memberi kesempatan peserta didik untuk menemukan suatu ilmu pengetahuan dengan
proses mencari sendiri.
6. Point-Counterpoint (Beradu
pandangan sesuai perspektif) tujuan dari implementasi model ini adalah untuk
melatih peserta didik agar mencari argumentasi yang kuat dalam memecahkan suatu
masalah yang actual di masyarakat sesuai dengan posisi yang diperankan.
7. Reading
Guide (Bacaan terbimbing) tujuan dari implementasi model ini adalah
membantu peserta didik lebih mudah dan terfokus dalam memahami sesuatu materi
pokok.
8. Active
Debate (Debat aktif) tujuan dari implementasi model ini adalah untuk
melatih peserta didik agar mencari argumentasi yang kuat dalam memecahkan
sesuatu masalah yang kontroversial serta memiliki sifat demokratis dan slaing
menghormati terhadap perbedaan pendapat.
9. Index
Card Mact (Mencari jodoh kartu tanya jawab) tujuan dari implementasi
model ini adalah untuk melatih peserta didik agar lebih cermat dan lebih kuat
pemahamannya terhadap suatu materi pokok.[4]
10. Jigsaw Learning (Belajar
melalui tukar delegasi antar kelompok) tujuan implementasi model ini adalah
untuk melatih peserta didik agar terbiasa berdiskusi dan bertanggungjawab
secara individu untuk membantu memahamkan tentang suatu materi pokok kepada
teman sekelasnya.
11. Role Play (Bermain
peran) tujuan dari implementasi model ini adalah memberikan pengalaman kongkrit
dari apa yang telah dipelajari. Mengilustrasikan prinsip-prinsip dari
pembelajaran. Menumbuhkan kepekaan terhadap masalah-masalah hubungan sosial.
Menyiapkan dan menyediakan dasar-dasar diskusi yang kongkrit. Menumbuhkan minat
dan motifasi belajar peserta didik. Menyediakan sarana untuk mengekplorasiakan
perasaan yang tersembunyi dibalik suatu keinginan.
12. Debat Berantai, tujuan
dari implementasi model ini adalah untuk menggali kemapuan peserta didik agar
dapat memberikan argumentasi (reasoning) antara dua pendapat yang kontradiktif
supaya tidak berfikir ekstrim dalam menyikapi suatu permasalahan.
13. Listening Team (Kelompok
pendengar) tujuan dari implementasi strategi ini adalah untuk melatih peserta
didik agar terbiasa belajar kelompok secara harmonis untuk mencapai hasil
belajar yang lebih efektif.
14. Team Quiz (Pertanyaan
kelompok) tujuan dari implementasi model ini adalah dapat meningkatkan
kemampuan tanggung jawab peserta didik tentang apa yang mereka pelajari melalui
cara yang menyenangkan dan tidak menakutkan.
15. Small Goup
Discussion (Diskusi kelompok kecil) tujuan dari implementasi model ini
adalah: agar peserta didik memiliki ketrampilan memecahkan masalah terkait
materi pokok dan persoalan yang dihadapi sehari-hari.
16. Card Sort (Menyortir
kartu) tujuan dari implementasi model ini adalah mengaktifkan setiap individu
sekaligus kelompok (cooperative learning) dalam belajar.
17. Gallery
Walk (Pameran berjalan) tujuan dari implementasi model ini adalah
membangun kerjasama kelompok (cooperative learning) dan saling memberi
apresiasi dan koreksi dalam belajar.[10]
C. Model-model
Pembelajaran yang dapat digunakan dalam Pembelajaran Aktif
1. Model
Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung (direct
intrucction) banyak diilhami oleh teori belajar social yang juga sering
disebut belajar melalui observasi. Dasar pembelajaran langsung ini yaitu adalah
teori pemodelan tingkah laku oleh Arends. Selain itu juga tokoh John Dolard dan
Neal Miller serta Albert Bandura yang mengatakan bahwa sebagian besar manusia
belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkahlaku orng lain.
Pemikiran mendasar dari model
pembelajaran langsung yakni siswa belajar dengan mengamati secara selektif,
mengingat dan menirukan tingkah laku gurunya. Atas dasar pemikiran tersebut hal
penting yang harus diingat dalam pembeljaran langsung adalah menghindari
penyampaian pengetahuan yang terlalu kompleks.
Pada umumnya pengetahuan yang bersifat
deklaratif dan prosedural akan lebih mudah dipahami siswa melalui pembelajaran
langsung. Pengetahuan yang deklaratif maksudnya adalah pengetahuan tentang
sesuatu. Sedangkan pengetahuan procedural adalah pengetahuan tentang bagaimana
melakukan sesuatu.
2. Model
pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah salah
satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivis. Pembeljaran
kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota
kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas
kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling
membantu untuk memahami materi pelajaran.
3. Model
pembelajaran ingkuiri/penemuan
Ingkuiri sebenarnya berasal dari
kata to inguire yang berarti ikut serta, atau
terlibat dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan
melakukan penyelidikan. Ingkuiri juga dapat diartikan sebagai proses bertanya
dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukannya.
Pertanyaan ilmiah adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan
penyelidikan terhadap objek pertanyaan.
4. Model
pembelajaran berbasis masalah
Pembelajar berbasis masalah memusatkan
pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan
masalah, mengajukan pertanyaan dan mempasilitasi penyelidikan dan dialog. [11]
Pemaparan diatas memberikan
pemahaman bahwa ada berbagai bentuk/tehnik dalam menerapkan paiken seperti
Model Pembelajaran Langsung, Model pembelajaran kooperatif, Model pembelajaran
ingkuiri/penemuan, dan Model pembelajaran berbasis masalah.[5]
BAB lll
KESIMPULAN
Pembelajaran merupakan proses
komunikasi dua arah, mengajar
dilakukan oleh pihak pendidik sebagai pengajar, sedangkan belajar
dilakukan oleh peserta didik atau murid. Dengan demikian pembelajaran
adalah setiap kegiatan yang dirancang oleh pendidik untuk membantu
seorang untuk mempelajari suatu kemampuan dan nilai yang baru dalam
suatu proses yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan,
dan evaluasi dalam konteks kegiatan belajar mengajar. Jadi dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran adalah prosedur dan metode yang ditempuh oleh
pengajar untuk memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam proses komunikasi
yang dapat diterima, dipahami, dan disepakati oleh pihak-pihak yang terkait
dalam proses pembelajaran yang diatur secara sistematis melalui tahap
rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA
[4] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Pesan,
Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jld. 15, Jakarta: Lentera Hati: 2002). h.
454-465.
[5] Al-Imam Zainuddin Ahmad, Mukhtashar
Shohih Al-Bukhori, (Libanon: Daru-Al- Kutub Al-Amaliyah, t.th.),h. 31
[8] Nana Sudjana-Ahmad Rivai, Teknlogi
Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algensindo.) cet. III, h. 36
[1]
Ibid.hal 150
2.mohammad jaunar
Komentar
Posting Komentar