makalah hadits tarbawi "hadits kesehatan" pengobatan ala nabi

KATA PENGANTAR

    Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayat yang telah ia berikan sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Kemudian ucapan terimakasih kami haturkan kepada pihak-pihak yang telah membantu dalalm penyusunan makalah ini, baik berupa sarana prasarana maupun berupa ide-ide atau gagasan-gagasan sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini dibuat dalam rangka melengkapi tugas mata kuliah hadits tarbawi sebagai bahan diskusi mengenai hadits tentang kesehatan.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, apabila ada kesalahan dan kekurangan kami mohon maaf. Kritik maupun saran kami buka demi perbaikan makalah ini untuk selanjutnya. Atas perhatiannya kami haturkan ungkapan terimakasih.
                                                                                 
September 2017                                 

Penyusun










DAFTAR ISI



 













BAB I

                                                  PENDAHULUAN

A.    Latar belakang masalah

    Islam adalah suatu agama yang mengutamakan kebersihan, yang bertujuan untuk mewujudkan kesehatan bagi pemeluknya. Oleh karna itu kesehatan sangatlah penting bagi kita. Sebagai umat islam kita hendaknya mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan kesehaan dalam sudut pandang agama islam, terutama hadist-hadist tentang kesehatan.
Alhamdulillah dalam diri rosulullah ada suri teladan. Beliau adalah manusia yang hanya 3 kali sakit sepanjaaaang hidupnya. Dari hidup beliaulah bisa didapati resep-resep tetap sehat atau menyembuhkan penyakit. Keunggulan-keunggulan pengobatan rasulullah ini tidak dimiliki oleh pengobatan modern.

B.     Rumusan masalah

Dengan adanya sedikit gambaran diatas, dapat ditarik kesimpulan yang kiranya pantas untuk dijadikan rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu
1.      Kesehatan jasmani dalam perspektif islam
2.      Kedokteran nabi
a.pengobatan menggunakan madu
b.pengobatan dengan ruqyah
c.habatussauda(biji jintan hitam)
d.bekam
BAB ll

PEMBAHASAN

                                                  

A.    Kesehatan jasmani dalam perspektif islam

      Islam merupakan agama yang sangat sempurna, islam berbeda dengan agama yang datang sebelumnya. Islam datang sebagai agama untuk kepentingan duniawi dan ukhrawi secara menyeluruh. Tidak terbatas jalur hubungan antara hamba dengan Tuhannya (horisontal) saja tetapi Islam juga mengatur hubungan secara vertikal. Islam sangat memperhatikan kondisi kesehatan sehingga dalam Al Quran dan Hadits ditemui banyak referensi tentang sehat. Misalnya Hadits Bukhari yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda. “Dua nikmat yang sering tidak diperhatikan oleh kebanyakan manusia yaitu kesehatan dan waktu luang.” 
Kosa kata “sehat wal afiat” dalam Bahasa Indonesia mengacu pada kondisi ragawi dan bagian-bagiannya yang terbebas dari virus penyakit. Sehat Wal Afiat ini dapat diartikan sebagai kesehatan pada segi fisik, segi mental maupun kesehatan masyarakat.
Sesuai dengan Sunnah Nabi inilah maka umat Islam diajarkan untuk senantiasa mensyukuri nikmat kesehatan yang diberikan oleh Allah SWT. Bahkan bisa dikatakan Kesehatan adalah nikmat Allah SWT yang terbesar yang harus diterima manusia dengan rasa syukur. Bentuk syukur terhadap nikmat Allah karena telah diberi nikmat kesehatan adalah senantiasa menjaga kesehatan. Firman Allah dalam Al Quran, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Surah Ibrahim [14]:7).
Berdasarkan Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Jabir dari Nabi SAW bersabda: Setiap penyakit pasti ada obatnya, apabila obatnya itu digunakan untuk mengobatinya, maka dapat memperoleh kesembuhan atas izin Allah SWT (HR. Muslim). Bahkan Allah SWT tidak akan menurunkan penyakit kecuali juga menurunkan obatnya, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh  Abu Hurairah RA dari Nabi SAW bersabda: Allah SWT tidak menurunkan sakit, kecuali juga menurunkan obatnya (HR  Bukhari).
Menurut Aswadi Syuhadak dari UIN Sunan Ampel Surabaya, indikasi sakit, sembuh dan sehat dalam bahasa Al-Qur’an, secara berurutan dapat didasarkan pada kata maradl, syifa’ dan salim. Kata maradl dan syifa’ secara berdampingan diungkapkan
(QS.al-Syu`ara’ [26/47]: 80 )                           

 “Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku“. 

Pada ayat ini tampak dengan jelas bahwa term sakit-maradl dikaitkan dengan manusia, sedangkan syifa’ maupun kesembuhan yang diberikan pada manusia adalah disandarkan pada Allah SWT. Kandungan makna demikian ini juga mengantarkan pada sebuah pemahaman bahwa setiap ada penyakit pasti ada obatnya, dan apabila obatnya itu sesuai penyakitnya akan memperoleh kesembuhan, dan kesembuhannya itu adalah atas izin dari Allah SWT.
Kata salim, dapat dijadikan  rujukan bahwa makna kesehatan menunjukkan kebersihan dan kesucian dalam diri manusia, baik jasmani maupun ruhani, lahir maupun batin, baik tauhid rububiyah (insaniyah) maupun uluhiyah (ilahiyah) sejak dari awal kehidupan hingga di hari kebangkitan. Istilah kesehatan jasmani dalam kajian ini lebih difokuskan pada perilaku amal shalih dan bukan sekedar berorientasi pada bentuk jasadiyah, badaniyah maupun harta kekakayaan, tetapi sekali lagi bahwa kesehatan jasmani di sini lebih mengarah pada amal perbuatan yang didasarkan pada nilai-nilai ruhaniyah uluhiyah maupun rububiyyah.
Kesehatan amaliyah inilah yang dapat bertahan hingga hari kebangkitan. Sedangkan kesehatan jasadiyah, badaniyah maupun ekonomi dapat dipahami sebagai raga, alat atau media yang dapat dimanfaatkan dalam mencapai kebersihan amal dengan melalui pertimbangan tauhid rububiyah maupun uluhiyah.
Dalam konteks masyarakat muslim modern, masalah kesehatan telah menjadi urusan publik maka terkait dengan kebijakan negara. Upaya mewujudkan perilaku sehat warga masyarakat dalam perspektif kebijakan kesehatan antara lain: kebijakan penurunan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab dan penyakit; kebijakan peningkatan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan status sosial ekonomi masyarakat; kebijakan peningkatan upaya kesehatan lingkungan terutama penyediaan sanitasi dasar yang dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup; Kebijakan dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat melalui upaya peningkatan pencegahan, penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan terutama untuk ibu dan anak; dan kebijakan peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat. Beberapa bahasan kesehatan masyarakat dakam perspektif islam akan dibahas dibagian selanjutnya.




B.     Kedokteran Nabi

    Kedokteran nabi adalah pengobatan yang dilakukan oleh nabi, kedokteran Nabi tidak sama dengan apa yang diresepkan oleh para dokter dan ahli kesehatan, obat Nabi adalah pengobatan yang efektif dan menyembuhkan yang diberikan berdasarkan wahyu dan arahan Nabi S.A.W. Beberapa pengobatan tersebut adalah sebagai berikut

1.      Pengobatan menggunakan madu

(Bukhori-volume 007, buku 071, nomor haadits 587)
Seorang pria datang kepada Nabi dan berkata “saudaraku menderita sakit perut”. Nabi bersabda kepadanya, “beri ia madu!” orang itu dating untuk kedua kalinya dan Nabi bersabda kepadanya, “beri ia madu!” pria itu datang untuk ketiga kalinya dan Nabi bersabda, “beri ia madu!”. Pria itu kembali lagi dan berkata, “aku telah melakukannya”. Nabi lalu bersabda , “ allah mengatakan yang sebenarnya tapi perut saudaramu telah berbohong. Biarkan dia minum madu!” maka dia meminumkan madu pada saudaranya dan kemudian saudaranya itu sembuh.
    Dari hadits diatas jelas bahwa jumlah madu yang dikonsumsi pada masa dua yang awal tidak cukup untuk menyembuhkan sakit sehingga Nabi memerintahkannya untuk meminum madu hingga ketiga kalinya. Besyukurlah kepada Allah, kemudia ia sembuh. Peristiwa terssebut adalah contoh yang baik yang menunjukkan bahwa dosis yang tepat diperlukan untuk memnyembuhkan penyakit. Denngan kata lain, jika 1 sendok  makan madu  tidak memnyembuhkan penyakit, maka minumlah  lagi dan lagi hingga sembuh.
   Madu, hadiah penyembuhan dari Allah bagi manusia.
Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa madu memiliki nilai atau manfaat pengobatan yang luar biasa. Madu dapat memnghilangkan zat berbahaya yang mungkin telah menumpuk di pembuluh darah daan usus. Madu sangaat bermanfaat apabila di gunakan untuk salep. Madu juga memiliki manfaat yang luas ketika dikonsumsi dan dicampur dengan minuman. Madu telah terbukti sangat berguna bagi orang tua untuk menjaga stamina. Madu dapat meningkatkan system kekebalan tubuh dan mampu melawan penyakit, dan masih banyak lagi manfaat dari madu.[1]

2.      Pengobatan dengan ruqyah

    Ruqyah adalah singkatan dari “ruqyah syar’iyah”. Ini adlah praktik yang dilakukan oleh Nabi S.A.W. dan diizinkan olehnya bagi orang lain untuk melakukannya berdasarkan beberapa hadits shahih. Singkatnta, ruqyah adalah pembacaan ayat ayat Al-qur’an atau berdoa kepada Allah dalam permohonan untuk tujuan penyembuha penyakit seseorang atau penyakit sendiri.
 (Bukhari, volume 007, buku 071, nomor hadits 640)
Bahwa rasulullah biasa mengobati ruqyah dengan membaca, “wahai Tuhan manusia! Hilangkan sakit, kesembuhan ada ditangan-MU, dan tidak ada yang mampu menghapuskan(penyakit itu kecuali engkau).
Dari hadits diatas jelas bahwa Orang yang melakukan ruqyah dan subjeknya harus sama-sama percaya dengan pasti bahwa penyembuhan berasal dari Allah bukan dari orang yang berdoa dan tidak pula dari doa itu sendiri.
   Ada beberapa kondisi penting yang harus dipenuhi untuk dapat melakukan ruqyah. Kondisi ini telah diringkas disini oleh ibnu hajar r.a.:
   Ibnu hajar (18 Februari 1372-2 Februari 1448, 852 H) adalah seorang ilmuan muslim sunni pada abad pertengahan shafiite yang mewakili seluruh lingkup dunia sunni di  bidang hadits.
   Ibnu hajar r.a,:” ada kesepakatan diantara para ulama bahwa ruqyah diizinka jika memenuhi tiga persyaratan:
1.      Dengan kata-kata Allah atau nama dan atributu-NYA
2.       Dengan bahasa arab atau kalimat- kalimat yang bermakna.
3.      Percaya bahwa mereka tidak menimbulkan dampak apapun, tetapi Allah S.W.T”(fathul bari 10/240)

“tiak ada yang salah dengan ruqyah selama mereka tidak melibatkan syirik”(H.R. Muslim)
     Dari hadits diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa ruqyah adalah suatu bentuk doa. Sebagaimana halnya dengan doa lain, ruqyah dapat menggunakan kata-kata apa saja asalkan memnuhi syarat diatas (yaitu sesuai dengan sunnah), dan tidak mengandung kesyirikan didalamnya.[2]









3.      Habbatussauda (jintan hitam)

    Biji jintan hitam merupakan jamu tradisional yang telah digunakan selama ribuan tahun oleh orang-orang yang tinggal di timur tengah dan beberapa bagian Asia serta Afrika untuk  meningkatkan kesehatan dan melawan penyakit. Tumbuhan ini juga sering disebut sebagai “blessed seed/biji yang diberkahi”.
(Bukhori-volume 007,buku 071, nomor hadits 592)
“ ada penyembuhan dalam jintan hitam untuk semua penyakit, kecuali kematian”.
 Dari hadits diatas Nabi Muhammad S.A.W. telah secara khusus menyebutkan dalam hadits diatas bahwa jintan hitam (biji hitam) memiliki kemampuan untuk menyembuhkan “semua” penyakit, kecuali kematian. Ini semua tentu saja berdasarkan kehendak Allah S.W.T. hanya dia yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan dan kita tidak boleh lupa bahwa Allah yang merancang dan menciptakan jintan hitam yang disebut dalam  hadits diatas.[3]

4.      Bekam

Bekam merupakan proses pembentuka wilayah dengan tekanan udara rendah pada tubuh , tepatnya pada kulit dengan menggunakan sebuah efek vakum.
Bekam memiliki banyak sebutan, seperti: badkesh, bahnkes, bekam, buhang, bentusa, kuyukaku, gak hoi, hijama, dan banyak lainnya.
Sejarah mengenai bekam basah dimulai ribuan tahun yang lalu, namun yang pertama tercatat ditemukan pada ajaran nabi Muhammad S.A.W. menurut imam bukhari, muslim, ahmad, Nabi Muhammad mengizinkan pengobatan menggunakan bekam. Nabi Muhammad telah bersabda, “didalam bekam (hijama) ada penyembuhan.” Beliau juga telah bersabda, “ siapa yang melakukan bekam (hijama) pada hari 17,19,atau 21(penanggalan islam) maka ada pengobatan bagi setiap penyakit.
(Bukhari-volume 007, buku 071, hadits nomor 587)
“saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘jika ada penyembuhan dalam obat-obatan anda, maka itu ada dalam bekam, seteguk madu atau dibakar dengan api (kauterisasi) yang sesuai penyakitnya, tapi saya tidak suka (terbakar) dibakar dengan api.
Dari pemaparan hadits-hadits diatas bahwa Nabi Muhammad S.A.W. mengajarkan pada kita bahwa bekam adalah suatu pengobatan dan juga suatu berkah. Umat islam terdahulu menggunakan bekam basah untuk menyembuhkan berbagai rasa sakit.
Muslim menganggap hijamah sebagai pengobatan yang efektif dan penting untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Namun segala puji Allah yang telah mengizinkan suatu pengobatan dapat berhasil/gagal.


BAB lll

PENUTUP

A.    Kesimpulan


    Dari uraian singkat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa  pengobatan  Nabi sangatlah efektif, solusi kesehatan yang baik. Ini adalah obat yang dapat menyembuhkan  segala penyakit kecuali kematian. Mengikuti jejak Rosulullah Muhammad SAW, merupakan suatu keharusan bagi umat Islam. Termasuk mewarisi metodologi pengobatan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Pengobatan yang dilakukan Rosulullah menggunakan tiga cara, yaitu melalui do’a atau pengobatan dengan menggunakan wahyu-wahyu Ilahi yang lebih dikenal dengan istilah do’a-do’a ma-tsur yang datang dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW yang shahih. Kedua menggunakan obat-obat tradisional baik dari tanaman maupun hewan.












DAFTAR PUSTAKA

Rasulullah is my doctor, d.gray jerry. Kelompok gema insani.jakarta 2010








[1] Rasulullah is my doctor, hlm 20-21
[2] Rasulullah is my doctor, hlm 55-59
[3] Rasulullah is my doctor, hlm 81-85, hlm 110-114

Komentar