MAKALAH MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Ilmu Alam, Budaya dan Sosial Dasar
Disusun Oleh:
Al khoriah
NIM :6571010115121
Phuyi
Hayati
Aminatun
murtofi’ah
Dosen
Pengampu :
Drs. Jayatin.MM
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH OTTO ISKANDAR DINATA
(OTISTA)
TANGERANG SELATAN
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT. atas rahmat
dan hiyadat yang telah Ia berikan sehingga makalah ini dapat terselesaikan
dengan baik dan tepat pada waktunya.
Kemudian ucapan terima kasih kami haturkan
kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, baik
berupa sarana dan prasarana maupun berupa ide-ide atau gagasan-gagasan sehingga
makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah ini dibuat dalam rangka melengkapi
tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD) sebagai bahan diskusi
mengenai Manusia dan Tanggung Jawab. Selain itu pengetahuan tentang manusia dan
tanggung jawab amatlah penting untuk kita ketahui agar kita dapat menjadi
manusia yang bertanggungjawab.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, apabila
ada kesalahan dan kekurangan kami mohon maaf. Kritik maupun saran kami buka
demi perbaikan makalah ini untuk selanjutnya.
Atas perhatiannya kami haturkan ungkapan terima
kasih.
_, Juni 2017
Penyusun
Kelompok 2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN.............................................................................................
1.1 Latar Belakang..........................................................................................................
1.2 Rumusan
Masalah.....................................................................................................
1.3 Manfaat dan Tujuan
Penulisan.................................................................................
BAB II
PEMBAHASAN..............................................................................................
2.1 Pengertian manusia.....................................................................................
2.2 Pengertian Tanggung
Jawab.............................................................................
2.3 Macam-macam tanggung
jawab...........................................................................
2.4 Kesadaran.................................................................................................................
2.5 Pengorbanan.............................................................................................................
2.6 Penderitaan……………………………………………………………………………….
2.7 Kewajiban…………………………………………………………………………………
2.8 Nasib buruk………………………………………………………………………………..
BAB III PENUTUP.......................................................................................................
3.1 Kesimpulan...............................................................................................................
3.2 Saran.........................................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA....................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam konteks sosial manusia merupakan makhluk
sosial. Ia tidak dapat hidup sendirian dengan perangkat nilai-nilai selera
sendiri. Nilai-nilai yang diperankan seseorang dalam jalinan sosial harus
dipertanggungjawabkan sehingga tidak mengganggu konsensus nilai yang telah
disetujui bersama.
Pada hakikatnya manusia hidup dengan tanggung
jawab yang selalu diembannya. Manusia hidup dengan tanggung jawab terhadap
dirinya sendiri, terhadap keluarga, masyarakat dan juga Tuhan Yang Maha Esa.
Tanpa adanya rasa tanggung jawab hidup manusia akan kacau dan tidak teratur.
Manusia tidak akan memahami bahkan tidak akan menghargai kehidupan jika dia
tidak mempunyai rasa tanggung jawab.
Tanggung jawab erat kaitannya juga dengan kesadaran, pengorbanan, penderitaan,
kewajiban dan tanggung jawab. Dengan adanya rasa tanggung jawab, manusia
kemudian akan mengabdi pada dirinya sendiri, kepada keluarga, masyarakat dan
juga kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rasa pengabdian tersebut timbul karena adanya
rasa kesetiaan terhadap apa yang ia miliki sehingga manusia akan melakukan
perbuatan baik dengan keikhlasan terhadap semua itu. Misalnya kewajiban manusia
terhadap Tuhannya dengan beribadah setulus hati. Tanggung jawab itu sendiri
muncul karena adanya kesadaran terhadap sesuatu yang ia miliki. Manusia akan
sadar terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya dengan menjaga apa yang ia
miliki. Selanjutnya dengan adanya kesadaran yang memupuk kewajiban, maka
manusia akan berkorban dengan sepenuh hati terhadap apa yang menjadi tanggung
jawabnya. Ia akan melakukan apa pun untuk dirinya sendiri, keluarganya,
masyarakat, dan Tuhan sebagai wujud pengabdian terhadap apa yang ia miliki.
Kurangnya rasa tanggung jawab berarti kurangnya
kesadaran manusia terhadap apa yang ia miliki. orang yang tidak memiliki rasa
tanggung jawab tidak akan segan-segan merusak apa yang seharusnya menjadi
tanggung jawabnya. Hal itu tanpa ia sadari akan merugikan dirinya sendiri.
Kurangnya kesadaran terhadap apa yang dimiliki membuat manusia tidak menghargai
arti dari kehidupan yang telah Tuhan berikan. Ia akan hidup dalam kesulitan
pada dirinya.
1.2 Rumusan Masalah
Agar tidak terjadi penyimpangan ataupun
kerancuan terhadap pembahasan makalah ini, maka penulis memberi batasan
terhadap pembahasan dengan ruang lingkup berkisar judul yang tertera dalam
makalah ini. Adapun rumusan makalah yang menjadi batasan dalam pembahasan
makalah ini di antaranya:
1. Apa
pengertian manusia?
2. Apa
pengertian tanggung jawab?
3. Apa saja
macam-macam tanggung jawab ?
4. Apa itu
kesadaran?
5. Apa itu
pengorbanan?
6.
Apa itu penderitaan?
7.
Apa itu kewajiban?
8.
Apa itu nasib buruk?
1.3 Manfaat dan Tujuan Penulisan
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat
memberi manfaat dan wawasan kepada pembaca maupun penulis tentang materi yang
terdapat di dalamnya. Materi dalam makalah ini hendaknya menumbuhkan kesadaran
kepada kita semua agar menjadi manusia yang bertanggungjawab.
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu agar
baik pembaca maupun penulis dapat:
1. Mengetahui
apa yang dimaksud dengan tanggung jawab.
2. Mengetahui
macam-macam tanggung jawab.
3. Mengetahui
apa yang dimaksud dengan kesadaran.
4. Mengetahui
apa yang dimaksud dengan pengorbanan.
5. Mengetahui
apa yang diamksud dengan penderitaan.
6.
Mengetahui apa yang dimaksud dengan kewajiban.
7.
Mengetahui apa yang dimaksud dengan nasib buruk.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
manusia
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Karena manusia mempunyai akal dan pikiran untuk berfikir secara logis dan dinamis, dan bisa membatasi diri dengan perbuatan yang tidak dilakukan, dan kita bisa memilih perbuatan mana yang baik (positif) atau buruk (negatif) buat diri kita sendiri. Bukan hanya itu saja pengertian manusia secara umum adalah manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Karena bukan hanya diri sendiri saja tetapi manusia perlu bantuan dari orang lain. Maka sebab itu manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial.
Telah berabad-abad konsep manusia sebagai makhluk sosial itu ada yang menitik beratkan pada pengaruh masyarakat yang berkuasa kepada individu. Dimana memiliki unsur-unsur keharusan biologis, yang terdiri dari:
1. Dorongan untuk makan
2. Dorongan untuk mempertahankan diri
3. Dorongan untuk melangsungkan jenis
Dari tahapan diatas menggambarkan bagaimana individu dalam perkembangannya sebagai seorang makhluk sosial dimana antar individu merupakan satu komponen yang saling ketergantungan dan membutuhkan. Sehingga komunikasi antar masyarakat ditentukan oleh peran oleh manusia sebagai makhluk sosial.
Dalam perkembangannya manusia juga mempunyai kecenderungan sosial untuk meniru dalam arti membentuk diri dengan melihat kehidupan masyarakat yang terdiri dari :
• penerimaan bentuk-bentuk kebudayaan, dimana manusia menerima bentuk-bentuk pembaharuan yang berasal dari luar sehingga dalam diri manusia terbentuk sebuah pengetahuan.
• penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia sehingga kinerja mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.
Pada umumnya hasrat meniru itu kita lihat paling jelas di dalam ikatan kelompok tetapi juga terjadi didalam kehidupan masyarakat secara luas. Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.
Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Secara garis besar faktor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari tiga hal yakni :
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Karena manusia mempunyai akal dan pikiran untuk berfikir secara logis dan dinamis, dan bisa membatasi diri dengan perbuatan yang tidak dilakukan, dan kita bisa memilih perbuatan mana yang baik (positif) atau buruk (negatif) buat diri kita sendiri. Bukan hanya itu saja pengertian manusia secara umum adalah manusia sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial. Karena bukan hanya diri sendiri saja tetapi manusia perlu bantuan dari orang lain. Maka sebab itu manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial.
Telah berabad-abad konsep manusia sebagai makhluk sosial itu ada yang menitik beratkan pada pengaruh masyarakat yang berkuasa kepada individu. Dimana memiliki unsur-unsur keharusan biologis, yang terdiri dari:
1. Dorongan untuk makan
2. Dorongan untuk mempertahankan diri
3. Dorongan untuk melangsungkan jenis
Dari tahapan diatas menggambarkan bagaimana individu dalam perkembangannya sebagai seorang makhluk sosial dimana antar individu merupakan satu komponen yang saling ketergantungan dan membutuhkan. Sehingga komunikasi antar masyarakat ditentukan oleh peran oleh manusia sebagai makhluk sosial.
Dalam perkembangannya manusia juga mempunyai kecenderungan sosial untuk meniru dalam arti membentuk diri dengan melihat kehidupan masyarakat yang terdiri dari :
• penerimaan bentuk-bentuk kebudayaan, dimana manusia menerima bentuk-bentuk pembaharuan yang berasal dari luar sehingga dalam diri manusia terbentuk sebuah pengetahuan.
• penghematan tenaga dimana ini adalah merupakan tindakan meniru untuk tidak terlalu menggunakan banyak tenaga dari manusia sehingga kinerja mnausia dalam masyarakat bisa berjalan secara efektif dan efisien.
Pada umumnya hasrat meniru itu kita lihat paling jelas di dalam ikatan kelompok tetapi juga terjadi didalam kehidupan masyarakat secara luas. Dari gambaran diatas jelas bagaimana manusia itu sendiri membutuhkan sebuah interaksi atau komunikasi untuk membentuk dirinya sendiri malalui proses meniru. Sehingga secara jelas bahwa manusia itu sendiri punya konsep sebagai makhluk sosial.
Yang menjadi ciri manusia dapat dikatakan sebagai makhluk sosial adalah adanya suatu bentuk interaksi sosial didalam hubugannya dengan makhluk sosial lainnya yang dimaksud adalah dengan manusia satu dengan manusia yang lainnya. Secara garis besar faktor-faktor personal yang mempengaruhi interaksi manusia terdiri dari tiga hal yakni :
1. Tekanan emosional. Ini sangat mempengaruhi
bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain.
2. Harga diri yang rendah. Ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi manusia yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang yang direndahkan membutuhkan kasih saying orang lain atau dukungan moral untuk membentuk kondisi seperti semula.
3. Isolasi sosial. Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi dengan orang yang sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi yang harmonis.
2. Harga diri yang rendah. Ketika kondisi seseorang berada dalam kondisi manusia yang direndahkan maka akan memiliki hasrat yang tinggi untuk berhubungan dengan orang lain karena kondisi tersebut dimana orang yang direndahkan membutuhkan kasih saying orang lain atau dukungan moral untuk membentuk kondisi seperti semula.
3. Isolasi sosial. Orang yang terisolasi harus melakukan interaksi dengan orang yang sepaham atau sepemikiran agar terbentuk sebuah interaksi yang harmonis.
2.2 Pengertian Tanggung Jawab
Konsep tanggung jawab menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga
bertanggung jawab mengandung pengertian kewajiban menanggung, memikul jawab,
menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab dan menanggung segala
akibatnya. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran
akan kewajibannya. Pengertian tanggung jawab dalam Ensiklopedia Umum dinyatakan
adalah kewajiban dalam melakukan tugas tertentu.
Tanggung jawab erat kaitannya dengan kewajiban.
Kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan terhadap seseorang, kewajiban
merupakan tandingan terhadap hak, dan dapat juga tidak mengacu kepada hak, maka
tanggung jawab dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajibannya.
2.3 Macam-Macam Tanggung Jawab
Sebagai eksistensi manusia sebagai makhluk
Tuhan, makhluk hidup dan makhluk sosial maka tanggung jawab dapat dibedakan
sebagai berikut:
a. Tanggung
Jawab terhadap Diri Sendiri
Menurut sifat dasarnya manusia adalah makhluk
bermoral, tetapi manusia juga sebagai seorang pribadi. Karena merupakan sebagai
seorang pribadi maka manusia mempunyai pendapat sendiri. Sebagai perwujudan
dari pendapat, perasaan dan angan-angan itu manusia berbuat atau bertindak.
Dalam hal ini manusia tidak luput dari kesalahan, kekeliruan, baik yang
disengaja maupun tidak. Contoh, manusia mencari makan, tidak lain adalah karena
adanya tanggung jawab terhadap dirinya sendiri agar dapat melangsungkan
hidupnya.
b. Tanggung
Jawab terhadap Keluarga
Seperti halnya makhluk Tuhan yang lain, maka
manusia secara naluri juga mengembangkan keturunannya agar sejarah hidupnya
tidak terputus. Untuk melangsungkan atau mengembangkan keturunan tersebut
manusia dibebani tanggung jawab agar anggota keluarganya tidak menderita atau
dapat hidup sesuai dengan keberadaannya. Untuk memenuhi tuntutan tanggung jawab
dalam keluarga tersebut kadang-kadang manusia memerlukan pengorbanan.
c. Tanggung
Jawab terhadap Masyarakat
Pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup tanpa
bantuan orang lain sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial. Karena
membutuhkan bantuan manusia lain maka ia harus berkomunikasi dengan manusia
lain tersebut. sehingga dengan demikian manusia di sini merupakan anggota
masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat
yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat.
d. Tanggung
Jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Manusia ada tidak dengan sendirinya, tetapi
merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia dapat
mengembangkan dirinya dengan sarana-sarana yang ada pada dirinya yaitu pikiran,
perasaan, seluruh anggota tubuhnya, dan alam sekitarnya.
Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah
tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya. Manusia mempunyai
tanggung jawab secara langsung kepada Tuhan sehingga tindakan manusia tidak
bisa lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci
melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukum-hukum tersebut akan segera
diperingatkan oleh Tuhan dan jika dengan peringatan yang keras pun manusia
tidak juga menghiraukan, maka Tuhan akan melakukan kutukan. Sebab dengan
mangabaikan perintah-perintah Tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi
tanggung jawabnya manusia perlu pengorbanan.
2.4 kesadaran
Kesadaran adalah keinsafan akan perbuatan.
Sadar artinya merata, tahu atau ingat (kepada keadaan sebenarnya), keadaan
ingat akan dirinya, ingat kembali (dari pingsannya), bangun (dari tidur), ingin
tahu, dan mengerti. Jadi kesadaran adalah hati yang telah terbuka atau pikiran
yang telah terbuka tentang apa yang telah dikerjakan. Kesadaran moral adalah
keterbuakaan hati atau pikiran akan menghargai hak-hak orang lain untuk berbuat
dengan tidak melanggar dengan hak dan kewajiban orang lain atau berbuat yang
dapat menyenangkan dan membahagiakan orang lain untuk berbuat sesuai dengan
kata hati.
Banyak jenis kesadaran yang dialami manusia, di
antaranya: kesadaran akan harga diri, kesadaran akan tanggung jawabnya kepada
keluarga, kesadaran atau kewajiban terhadap negara, kesadaran akan kewajibannya
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan sebagainya. Kesadaran dan ketidaksadaran ini
saling berganti mengisi kehidupan manusia karena keadaran dan ketidaksadaran
ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
2.5 Pengorbanan
Pengorbanan berasal dari kata korban,
artinya memberikan secara ikhlas, seperti: harta, benda, waktu, tenaga, pikiran
bahkan mungkin nyawa demi cintanya atau ikatannya dengan sesuatu atau demi
kesetiaan, kebenaran. Perbedaan antara pengertian pengabdian dan pengorbanan
tidak begitu jelas. Karena ada pengabdian tentu ada pengorbanan. Pengorbanan
merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda,
pikiran, perasaan bahkan dapat juga berupa jiwa. Pengorbanan diserahkan secara
ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja
diperlukan.
Manusia hidup sebagai pribadi, sebagai bangsa,
dan warga negara suatu negara dan juga sebagai makhluk Tuhan; karena itu maka
dalam kehidupan ada bermacam-macam jenis pengorbanan. Pengorbanan demi
keluarga, demi hidup di masyarakat, demi cinta kepada bangsa dan negara.
Pengorbanan
Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti
persembahan, sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk
menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat
kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih. Suatu
pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata.
Pengorbanan dalam arti pemberian sebagai tanda kebaktian tanpa pamrih dapat
dirasakan bila kita membaca atau mendengarkan kotbah agama. Dari kisah
para tokoh agama atau nabi, manusia memperoleh tauladan, bagaimana
scmestinya wajib berkorban. Berikut ini diberikan dua buah
penggambaran.
Pangeran Sidharta Gautama dari Kapilawastu diharapkan oleh ayahnya untuk
kemudian menggantikan kedudukannya sebagai raja. Tetapi, Pangeran tersebut
lebih tetarik pada kehidupan pertapa untuk memperoleh penerangan agung
bagaimana caranya manusia dapat membebaskan dirinya dari
sengsara (samsara) melalui pelepasan (mokhsa) dan mencapai kehidupan
abadi di sorga (nirvana). Ia mengorbankan kehidupannya yang mewah duniawi dalam
istana, ia mengorbankan kepentingan keluarganya, karena memandang bahwa
kepentingan umat manusia yang bodoh (avidhya) perlu didahulukan. Usahanya
berhasil memperoleh penerangan agung di tcmpat pertapaan Bodh Gaya, yang
kemudian disiarkan kepada umat manusia. Ia rela mengorbankan duniawinya,
keluarganya. demi kepentingan umat manusia yang derajatnya lebih tinggi.
Ia menjadi seorang Budha yang akhimya tidak dilahirkan kembali dan menjadi
pendiri agama Budha.
Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk mengorbankan putra
tunggalnya Ismail. Walaupun ia sangat sayang pada putranya tersebut,
perintah Allah untuk mengorbankan tetap dipatuhinya. Allah menguji
kesetiaan dan besamya pengorbanan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim tidak sampai
hati melihat pisaunya dipotongkan ke leher putranya, tetapi ia sudah
bertekad setia menjalankan perintahNya. Kemudian terbukti. bahwa putra yang mau
dikorbankan kepada Allah sudah berganti dengan biri-biri. Pengorbanan
yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim kepada Allah lebih tinggi kadamya daripada
pengorbanan oleh nabi ibrahim sekarang yang ditiru oleh oleh umat Islam yang menjalankan
ibadah haji di Tanah Suci maupun umat Islam di wilayah lain dengan mengorbanan
temak untuk keperluan fakir miskin pada hari raya Idul Qurban.
Perbedaan antara pengertian pcngabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas.
Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesama
kawan, sulit dikatakan pengabdian, karena kata pengabdian mengandung arti lebih
rendah tingkatannya. Tetapi untuk kala pengorbanan dapat juga diterapkan
kepada sesama teman.
Pengorbanan merupakan akibat dan pengabdian. Pengorbanan dapat
berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan dapat
juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan
secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian,
tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan.
Pengabdian lebih banyak menunjuk kepada perbuatan
sedangkan, pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada
pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya,
waktu. Dalam pengabdian selalu
dituntut pengorbanan,tetapi pengorbanan belum tentu menuntut
pengabdian.
Kesediaan seorang guru sekolah dasar ditempatkan di pelosok
terpencil daerah transmigrasi, adalah pengabdian yang juga menuntut
pengorbanan. Dikatakan pengabdian karena ia mengajar disitu
tanpa menerima gaji dari pemerintah, tanpa diurus
oleh pihak berwenang usul pengangkatannya, ia hanya bertanggung
jawab untuk kemajuan dan kecerdasan masyarakat / bangsanya. Ia
hanya menerima penghargaan dan belas kasihan dari masyarakat
setempat. Pengorbanan yang ia berikan
berupa tenaga, pikiran,waktu untuk kepentingan anak didiknya.
Dalam novel berjudul “Siti Nurbaya” karya
Marah Rusli, betapa besar pengorbanan gadis
Siti Nurbaya sebagai pengabdiannya kepada
orang tua. Orang tua Siti Nurbaya tidak mampu
membayarhutang kepada Datuk Maringgih. Sebagai tebusannya, Siti
Nurbaya dibujuk agar bersedia kawin dengan Datuk Maringgih,
si tua bangka, walaupun sebenamya ia sudah mengikat
janji dengan pemuda pujaannya bemama Syamsul Bahri.
Demi pengabdian kepada bapaknya , Siti Nurbaya bersedia
memutuskan hubungannya dengan Syamsul Bahri dan mau
dikawinkan dengan Datuk Maringgih, walaupun dcngan
perasaan yang sangat berat.
2.6 Pengertian Penderitaan
Penderitaan
adalah menanggung atau menjalani sesuatu yang sangat tidak menyenangkan yang
dapat dirasakan oleh manusia. Setiap manusia pasti pernah mengalami penderitaan
baik secara fisik maupun batin. Penderitaan juga termasuk realitas dunia dan
manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan
ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat tidaknya
suatu intensitas penderitaan.
Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu
merupakan suatu penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan
merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk
mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
Memang harus diakui, di antara kita dan dalam masyarakat masih terdapat
banyak orang yang sungguh-sungguh berkehendak baik, yaitu manusia yang merasa
prihatin atas aneka tindakan kejam yang ditujukan kepada sesama manusia yang
tidak saja prihatin, melainkan berperan serta mengurangi penderitaan sesamanya,
bahkan juga berusaha untuk mencegah penderitaan atau paling tidak
menguranginya, serta manusia yang berusaha keras tanpa pamrih untuk melindungi,
memelihara dan mengembangkan lingkungan alam ciptaan secara berkelanjutan. Ada
keinginan alamiah manusia untuk menghindari penderitaan. Tetapi justru
penderitaan itu merupakan bagian yang terkandung dalam kemanusiaannya.
2.6.1 Hubungan Manusia dan
Penderitaan
Allah adalah pencipta
segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Dialah yang maha kuasa atas segala
yang ada isi jagad raya ini. Beliau menciptakan mahluk yang bernyawa dan tak
bernyawa. Allah tetap kekal dan tak pernah terikat dengan penderitaan.
Mahluk bernyawa memiliki sifat ingin tepenuhi
segala hasrat dan keinginannya. Perlu di pahami mahluk hidup selalu membutuhkan
pembaharuan dalam diri, seperti memerlukan bahan pangan untuk kelangsungan
hidup, membutuh air dan udara. Dan membutuhkan penyegaran rohani berupa
ketenangan. Apa bila tidak terpenuhi manusia akan mengalami penderitaan. Dan
bila sengaja tidak di penuhi manusia telah melakukang penganiayaan. Namun bila
hasrat menjadi patokan untuk selalu di penuhi akan membawa pada kesesatan yang
berujung pada penderitaan kekal di akhirat.
Manusia sebagai mahluk yang berakal dan
berfikir, tidak hanya menggunakan insting namun juga pemikirannya dan
perasaanya. Tidak hanya naluri namun juga nurani.
Manusia diciptakan sebagai mahluk yang paling
mulia namun manusia tidak dapat berdiri sendiri secara mutlah. Manusia perlu
menjaga dirinya dan selalu mengharapkan perlindungan kepada penciptanya.
Manusia kadang kala mengalami kesusahan dalam penghidupanya, dan terkadang
sakit jasmaninya akibat tidak dapat memenuhi penghidupanya.
Manusia memerlukan rasa aman agar dirinya
terhidar dari penyiksaan. Karena bila tidak dapat memenuhi rasa aman manusia
akan mengalami rasa sakit. Manusia selau berusaha memahami kehendak Allah,
karena bila hanya memenuhi kehendak untuk mencapai hasrat, walau tidak
menderita didunia, namun sikap memenuhi kehendak hanya akan membawa pada
pintu-pintu kesesatan dan membawa pada penyiksaan didalam neraka.
Manusia didunia melakukan kenikmatan berlebihan
akan membawa pada penderitaan dan rasa sakit. Muncul penyakit jasmani juga
terkadang muncul dari penyakit rohani. Manusia mendapat penyiksaan di dunia
agar kembali pada jalan Allah dan menyadari kesalahanya. Namun bila manusia
tidak menyadari malah semakin menjauhkan diri maka akan membawa pada pederitaan
di akhirat.
Banyak yang salah kaprah dalam menyikapi
penderitaan. Ada yang menganhap sebagai menikmati rasa sakit sehingga tidak
beranjak dari kesesatan. Sangat terlihat penderitaan memiliki kaitan dengan
kehidupan manusia berupa siksaan, kemudian rasa sakit, yang terkadang membuat
manusia mengalami kekalutan mental. Apa bila manusia tidak mampu melewati
proses tersebut dengan ketabahan, di akherat kelak dapat menggiring manusia
pada penyiksaan yang pedih di dalam neraka.
2.6.2 Cara Manusia Menghadapi Penderitaan
Bagaimana manusia menghadapi penderitaan dalam
hidupnya ? penderitaan fisik yang dialami manusia tentulah diatasi dengan cara
medis untuk mengurangi atau menyembuhkannya, sedangkan penderitaan psikis
penyembuhannya terletak pada kemampuan si penderita dalam menyelesaikan
soal-soal psikis yang dihadapinya.
2.6.3 Siksaan
Penderitaan biasanya di sebabkan oleh siksaan.
Baik fisik ataupun jiwanya.Siksaan atau penyiksaan (Bahasa Inggris: torture)
digunakan untuk merujuk pada penciptaan rasa sakit untuk menghancurkan
kekerasan hati korban. Segala tindakan yang menyebabkan penderitaan, baik
secara fisik maupun psikologis, yang dengan sengaja dilakukkan terhadap
seseorang dengan tujuan intimidasi, balas dendam, hukuman, pemaksaan informasi,
atau mendapatkan pengakuan palsu untuk propaganda atau tujuan politik dapat
disebut sebagai penyiksaan. Siksaan dapat digunakan sebagai suatu cara
interogasi untuk mendapatkan pengakuan. Siksaan juga dapat digunakan sebagai
metode pemaksaan atau sebagai alat untuk mengendalikan kelompok yang dianggap
sebagai ancaman bagi suatu pemerintah. Arti siksaan, siksaan berupa jasmani dan
rohani bersifat psikis, kebimbangan, kesepian, ketakutan.
Siksaan Yang Sifatnya Psikis :
a. Kebimbangan
memiliki arti tidak
dapat menetukan pilihan mana yang akan dipilih.
b. Kesepian
merupakan rasa sepi yang
dia alami pada dirinya sendiri / jiwanya walaupun ia dalam lingkungan orang
ramai.
c. Ketakutan
adalah sebuah sesuatu
yang tidak dinginkan yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin.
Bila rasa takut itu dibesar – besarkan tidak pada tempatnya, maka disebut
sebagai phobia.
penyebab seseorang merasakan ketakutan, antara lain:
1. Claustrophobia dan agrophobia adalah rasa
takut terhadap ruangan tertutup.
2. Gamang adalah rasa takut akan tempat yang
tinggi.
3. Kegelapan adalah rasa takut bila seseorang
berada di tempat gelap.
4. Kesakitan merupakan ketakutan yang disebabkan
oleh rasa sakit yang akan dialami.
5. Kegagalan ketakutan dari seseotang
disebabkan karena merasa bahwa apa yang akan dijalankan mengalami kegagalan.
Para ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa phobia adalah suatu
gejala dari suatu problema psikologis yang dalam, yang harus ditemukan,
dihadapi, dan ditaklukan sebelum phobianya akan hilang. Sebaliknya ahli-ahli
yang merawat tingkah laku percaya bahwa suatu phobia adalah problem nya dan
tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya mendapatkan perawatan dan
pengobatan. Kebanyakan ahli setuju bahwa tekanan dan ketegangan disebabkan oleh
karena si penderita hidup dalam keadaan ketakutan terus menerus, membuat
keadaan si penderita sepuluh kali lebih parah.
2.6.4 Kekalutan Mental
Penderitaan batin dalam ilmu psikologi dikenal
sebagai kekalutan mental. Secara lebih sederhana kekalutan mental adalah
gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang
harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah laku secara kurang wajar.
Gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami
kekalutan mental adalah :
1. Nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak
napas, demam, nyeri pada lambung
2. Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah
hati, apatis, cemburu, mudah marah
3. Selalu iri hati dan curiga, ada kalanya dihinggapi khayalan,
dikejar-kejar sehingga dia menjadi sangat agresif, berusaha melakukan
pengrusakan atau melakukan detruksi diri dan bunuh diri.
4. Komunikasi sosial putus dan ada yang disorientasi social
5. Kepribadian yang lemah atau kurang percaya diri sehingga menyebabkan
yang bersangkutan merasa rendah diri, ( orang-orang melankolis)
6. Terjadinya konflik sosial – budaya akibat dari adanya norma yang
berbeda antara dirinya dengan lingkungan masyarakat.
Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah
:
1. Gangguan kejiwaan nampak pada gejala-gejala kehidupan si
penderita baik jasmani maupun rohani.
2. Usaha mempertahankan diri dengan cara negatif
3. Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang
bersangkutan mengalami gangguan.
4. Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan
meningkatnya jumlah penderita penyakit jiwa, terutama gangguan kecemasan.
5. Dipicu oleh faktor psychoeducational. Faktor ini terjadi karena
adanya kesalahan dalam proses pendidikan anak sejak kecil, mekanisme diri dalam
memecahkan masalah. Konflik-konflik di masa kecil yang tidak terselesaikan,
perkembangan yang terhambat serta tiap fase perkembangan yang tidak mampu
dicapai secara optimal dapat memicu gangguan jiwa yang lebih parah.
6. Faktor sosial atau lingkungan juga dapat berperan bagi timbulnya
gangguan jiwa, misalnya budaya, kepadatan populasi hingga peperangan. Jika
lingkungan sosial baik, sehat tidak mendukung untuk mengalami gangguan jiwa
maka seorang anak tidak akan terkena gangguan jiwa. Demikian pula sebaliknya.
Gangguan jiwa tidak dapat menular, tetapi mempunyai kemungkinan dapat menurun
dari orang tuanya. Namun hal ini tidak berlaku secara absolut.
Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental :
1. Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental
yang kurang sempurna.
2. Terjadinya konflik sosial budaya.
3. Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang
berlebihan terhadap kehidupan sosial.
Proses kekalutan mental yang dialami
seseorang mendorongnya kearah positif dan negatif.
1. Positif; trauma jiwa yang dialami dijawab dengan baik
sebgai usaha agar tetap survey dalam hidup, misalnya melakukan sholat tahajut,
ataupun melakukan kegiatan yang positif setelah kejatuhan dalam hidupnya.
2. Negatif; trauma yang dialami diperlarutkan sehingga yang
bersangkutan mengalami frustasi, yaitu tekanan batin akibat tidak tercapai nya
apa yang diinginkan.
Bentuk frustrasi antara lain :
1. Agresi berupa kemarahan yang meluap-luap akibat emosi yang
tak terkendali dan secara fisik berakibat mudah terjadi hipertensi atau
tindakan sadis yang dapat membahayakan orang sekitarnya.
2. Regresi adalah kembali pada pola perilaku yang primitif atau ke
kanak-kanakan
3. Fiksasi; adalah peletakan pembatasan pada satu pola yang sama
(tetap) misalnya dengan membisu.
4. Proyeksi; merupakan usaha melemparkan atau memproyeksikan
kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negatif kepada orang lain.
5. Identifikasi; adalah menyamakan diri dengan seseorang yang
sukses dalam imaginasinya
6. Narsisme; adalah self love yang berlebihan sehingga yang
bersangkutan merasa dirinya lebih superior dari pada orang lain.
7. Autisme; ialah menutup diri secara total dari dunia riil, tidak
mau berkomunikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasi nya sendiri yang
dapat menjurus ke sifat yang sinting.
Penderitaan kekalutan mental banyak
terdapat dalam lingkungan seperti :
1. Kota – kota besar
2. Anak-anak muda usia
3. Wanita
4. Orang yang tidak beragama
5. Orang yang terlalu mengejar materi
2.6.5 Sebab-Sebab Terjadi
Penderitaan
Apabila kita kelompokkan secara sederhana
berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat
diperinci sebagai berikut :
1. Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat
terjadi dalam hubungan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam
sekitarnya. Penderitaan ini kadang disebut nasib buruk. Nasib buruk ini dapat
diperbaiki manusia supaya menjadi baik. Dengan kata lain, manusialah yang dapat
memperbaiki nasibnya. Allah SWT berfirman, aku tidak akan pernah merubah nasib
hambaku melainkan hambaku sendirilah yang merubahnya. Sudah jelas Tuhan tidak
akan mengubah nasib hambanya, karena atas usaha hambanya sendirilah yang bisa
mengubah nasibnya itu. Adapu perbedaan antara nasib buruk dan takdir, kalau
takdir Tuhan yang menjadi penentunya sedangkan nasib buruk itu manusialah
penyebabnya. Karena perbuatan buruk antara sesama manusia menyebabkan
menderitanya manusia yang lain, contohnya:
a. Pembantu rumah tangga yang diperkosa, disekap, dan disiksa oleh
majikannya, sudah pantas jika majikannya yang biadab itu diganjar dengan
hukuman penjara oleh pengadilan negeri Surabaya supaya perbuatannya itu dapat
diperbaiki sekaligus merasakan penderitaan yang telah diberikan kepada orang
lain. Sedangkan pembantu yang telah menderita itu dipulihkan.
b. Perbuatan buruk orang tua Arie Hanggara yang menganiaya anak
kandungnya sendiri sampai mengakibatkan kematian, sudah pantas jika dijatuhkan
hukuman oleh pengadilan Negeri Jakarta Pusat supaya perbuatannya itu dapat
diperbaiki dan sekaligus merasakan penderitaan anaknya.
c. Perbuatan buruk para pejabat pada zaman orde lama dituliskan
oleh seniman Rendra dalam puisinya “bersatulah pelacur-pelacur kota Jakarta,”
perbuatan buruk yang merendahkan derajat kaum wanita tidak lebih dari pemuas
nafsu seksual. Karya Rendra ini dipandang sebagai salah satu usaha memperbaiki
nasib buruk itu dengan mengkomunikasikannya kepada masyarakat termasuk pelacur
ibu kota itu.
2. Penderitaan timbul karena penyakit, siksaan / azab Tuhan.
Penderitaan manusia dapat juga
terjadi akibat penyakit atau siksaan / azab Tuhan. Namun kesabaran , tawakal,
dan optimisme dapat merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu.
Banyak contoh kasus penderitaan semacam ini dialami manusia. Beberapa kasus
penderitaan dapat diungkapkan bentuk ini:
a. Seorang anak lelaki buta sejak dilahirkan, diasuh dengan tabah
oleh orang tuanya. Ia disekolahkan, kecerdasan luar biasa. Walaupun ia tidak
dapat melihat dengan mata hatinya terang benderang. Karena kecerdasannya, ia
memperoleh pendidikan sampai di Universitas., dan akhirnya memperoleh gelar
Doktor di Universitas Di Sorbone Perancis. Dia adalah Prof. Dr. Thaha Husen,
Guru besar Universitas di Kairo Mesir
b. Nabi Ayub mengalami siksaan Tuhan, tetapi dengan sabar ia
menerima cobaan ini. Bertahun-tahun ia menderita penyakit kulit, sehingga
istrinya bosan memeliharanya, dan ia dikucilkan. Berkat kesabaran dan pasrah
kepada Tuhan, sembuhlah Ia dan tampak lebih muda, sehingga istrinya tidak
mengenalinya lagi. Di sini kita dihadapkan kepada masalah sikap hidup
kesetiaan, kesabaran, tawakal, percaya, pasrah, tetapi juga sikap hidup yang
lemah, seperti kesetiaan dan kesabarn sang istri yang luntur, karena penyakit
Nabi Ayub yang lama.
b. Tenggelamnya Fir’aun di laut merah seperti disebutkan dalam Al-Qur’an
adalah azab yang dijatuhkan Tuhan kepada orang yang ampuh dan sombong. Fir’aun
adalah raja mesir yang mengaku dirinya Tuhan. Ketika Fir’aun bersama bala
tentaranya mengejar Nabi Musa dan –para pengikutnya menyeberangi laut merah,
laut itu terbelah dan Nabi Musa serta para pengikutnya berhasil melewatinya.
Ketika Fir’aun dan tentaranya berada tepat ditengah belahan laut merah itu,
seketika juga laut merah itu tertutup dan mereka semua tenggelam.
2.6.6 Pengaruh Penderitaan
Orang yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh
bermacam-macam dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap
positif ataupun sikap negatif. Sikap negatif misalnya penyesalan karena tidak
bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Sikap ini diungkapkan dalam
peribahasa “sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”, “nasi sudah
menjadi bubur”. Kelanjutan dan sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, misalnya
anti kawin atau tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup.
Sikap positif yaitu sikap optimis mengatasi penderitaan hidup, bahwa
hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dan
penderitaan, dan penderitaan itu adalah hanya bagian dari kehidupan. Sikap
positif biasanya kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan mungkin timbul sikap
keras atau sikap anti, misalnya anti kawin paksa, ia berjuang menentang kawin
paksa; anti ibu tiri; anti kekerasan, ia berjuang menentang kekerasan, dan
lain-lain.
Apabila sikap negatif dan sikap positif ini dikomunikasikan oleh para
seniman kepada pembaca, penonton, maka para pembaca, para penonton akan
memberikan penilaiannya. Penilaian itu dapat berupa kemauan untuk mengadakan
perubahan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat dengan tujuan perbaikan
keadaan. Keadaan yang sudah tidak sesuai ditinggalkan dan diganti dengan
keadaan yang lebih sesuai. Keadaan yang berupa hambatan yang harus
disingkirkan.
2.7
Pengertian
Kewajiban
Kewajiban berbeda dengan hak. Kewajiban adalah syarat
atau hal-hal yang harus dilakukan oleh manusia sebelum ia mendapatkan hak-nya.
Jika kewajiban ditinggalkan, maka manusia akan berdosa, karena kewajiban pasti
akan berdampak pada terhalangnya hak orang lain.
Misalnya saja, orang yang berkewajiban membayar pajak,
jika ia tidak membayarkannya maka akan berdampak kepada hak-hak rakyat dan
negara. Tentu saja merugikan dan merusak tatanan masyarakat. Untuk itu
kewajiban sebagaimana hak, sangat bergantung satu sama lain.
Sebagai umat muslim tentu saja harus dilaksanakan
kewajiban dan mengambil hak yang memang milik kita. Jika tidak sesuai dan
mengambil tidak sesuai hak dan kewajiban, maka kedzaliman akan menghampiri
kita. Tentunya juga kedosaan yang akan menimpa kita.
Kewajiban Sebagai Manusia
Manusia dengan sesama manusia juga memiliki hak-nya
masing-masing. Allah terhadap manusia sudah memberikan hak-hak nya berupa
rezeki, kesehatan, dan berbagai macam lainnya. Sedangkan manusia terhadap
manusia terkadnag tidak menunaikan kewajibannya sehingga membuat manusia lain
lalai akan hak-nya.
2.7.1
Menyembah dan
Mentaati Perintah Allah
“Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang
keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar
hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah
dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan)
mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS
Al-A’raff“: 33)
Manusia sejak awal lahir ke dunia telah Allah tetapkan untuk
mengikuti dan meyembah kepada Allah. Penyembahan manusia pada hal lain selain
Allah adalah kerugian dan sebuah kebodohan yang membuat hidup manusia itu
sendiri mendapatkan kesengsaraan. Untuk itu, Allah memerintahkan manusia agar
menyembah kepada Allah, agar keselamtan menyertai manusia. Hakikatnya manusia
yang menjalankan kewajibannya akan kembali mendapatkan manfaat dan
keselamatannya untuk manusia sendiri.
2.7.2
Menjalankan Misi Khalifah fil Ard
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka
berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman:
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(QS Al-Baqarah
: 30)
Manusia diciptakan Allah untuk dapat menjalankan misi
khalifah fil Ard. Misi ini adalah sebagai alasan mengapa manusia diciptakan,
dan menjadi kewajiban agar manusia di muka bumi dalam keadaan selamat juga
sejahtera.
Tanpa ada pembangunan, pengelolaan yang baik, manusia
akan mendapatkan kerusakan dalam hidupnya juga kesengsaraan. Tugas khalifah fil
ard bukanlah tugas seorang yang berlabel pemimpin saja melainkan tugas dari
setiap orang, khususnya manusia yang ada di muka bumi.
2.7.3
Berbuat
Kebaikan, Menghindari Kerusakan
Hal ini yang harus dilakukan manusia dan menjadi
kewajiban yang harus dilakukan. Berbuat kebaikan, menghindari perbuatan keji
dan munkar adalah tugas dari manusia. Untuk itu, sebagaimana ayat di atas
manusia harus menjalankan kebaikan dan menghindari perbuatan dosa.
Manusia memang tidak bisa lepas dari dosa, akan tetapi
kewajiban manusia adalah menghindarinya. Hal ini karena setan selalu berada di
sekitar manusia dan mempengaruhi manusia.
2.8 Nasib buruk
Nasib buruk itu
kerap kali hadir didalam kehidupan kita. Nasib buruk itu adalah suatu keadaan
dimana keadaan yang tidak menyenangkan yang tidak pernah kita harapkan itu
datang menghantui kita. Kita tidak dapat menebak kapan nasib buruk itu akan datang dikehidupan kita. nasib buruk juga
merupakan suatu roda kehidupan. Sama seperti roda kehidupan, kita tak selamanya
ada diatas terkadang kita akan dibawah dan merasakan kerasnya dibawah jatuh
begitu dalam suatu problematika.
Nasib buruk itu datang untuk menguji kita, sampai dimana batas kesabaran dan ketabahan yang kita miliki. Ujian hidup juga sulit sekali ditebak, seperti nasib buruk ini. Tuhan pasti memiliki maksud dibalik semuanya. Tuhan memberikan kita nasib buruk bukan untuk membuat kita jatuh, tapi Tuhan sedang menguji kita. tuhan yakin kita dapat menjalani ujian yang diberikan-Nya. Sesuai dengan pepetah
“Tuhan tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan umat-Nya”. Tuhan itu baik. Ia memberi kita ujian dengan harapan kita dapat melaluinya dan belajar dari apa yang pernah kita alami. Dengan semakin berat dan banyaknya ujian, kita sebagai manusia akan lebih kuat lagi dalam menerjang semua ujian. Di dalam diri kita akan terbentuk sifat yang tabah dan menerima semua cobaan dengan lapang dada. Sehingga membuat Tuhan akan lebih sayang lagi terhadap kita
Nasib buruk itu datang untuk menguji kita, sampai dimana batas kesabaran dan ketabahan yang kita miliki. Ujian hidup juga sulit sekali ditebak, seperti nasib buruk ini. Tuhan pasti memiliki maksud dibalik semuanya. Tuhan memberikan kita nasib buruk bukan untuk membuat kita jatuh, tapi Tuhan sedang menguji kita. tuhan yakin kita dapat menjalani ujian yang diberikan-Nya. Sesuai dengan pepetah
“Tuhan tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan umat-Nya”. Tuhan itu baik. Ia memberi kita ujian dengan harapan kita dapat melaluinya dan belajar dari apa yang pernah kita alami. Dengan semakin berat dan banyaknya ujian, kita sebagai manusia akan lebih kuat lagi dalam menerjang semua ujian. Di dalam diri kita akan terbentuk sifat yang tabah dan menerima semua cobaan dengan lapang dada. Sehingga membuat Tuhan akan lebih sayang lagi terhadap kita
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat
kita simpulkan bahwa :
Pada
dasarnya Tanggung Jawab dalam konteks pergaulan manusia adalah suatu
keberanian. Orang yang bertanggung jawab adalah orang yang berani menanggung
resiko atas segala hal yang telah dilakukan atau diperbuat menjadi tanggung
jawabnya. Ia jujur terhadap dirinya dan jujur terhadap orang lain, adil,
bijaksana, tidak pengecut dan mandiri. Dengan rasa tanggung jawab, orang yang
bersangkutan akan selalu berusaha memenuhi kewajibannya melalui seluruh potensi
dirinya. Orang yang bertanggung jawab adalah orang mau berkorban untuk
kepentingan orang lain ataupun orang banyak.
Orang
yang bertanggung jawab dapat memperoleh kebahagiaan, sebab ia dapat menunaikan
kewajibannya dengan baik. Kebahagiaan tersebut dapat dirasakan oleh dirinya
sendiri ataupun oleh orang lain/banyak. Sebaliknya orang yang tidak bertanggung
jawab akan menghadapai kesulitan, sebab ia tidak melaksanakan kewajibannya
dengan baik dan tentunya tidak mengikuti aturan, norma serta nilai-nilai yang
berlaku. Selain itu wujud dari tanggung jawab juga berupa pengabdian dan
pengorbanan. Pengabdian dan pengorbanan adalah suatu perbuatan yang baik untuk
kepentingan manusia itu sendiri.
3.2 Saran
Dengan
pembahasan makalah tentang manusia dan tanggung jawab ini, kita dapat
mengetahui tanggung jawab serta macam-macamnya. Dan kita bisa
mengimplementasikan tanggung jawab tersebut dalam diri kita.
DAFTAR PUSTAKA
Drs. Djoko
Widagdho, dkk, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta:Bumi Aksara, 1991), hlm. 144.
Drs. H. Ahmad
Mustofa, IBD, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), hlm. 133
Drs. Djoko
Widagdho, dkk, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta:Bumi Aksara, 1991), hlm. 147.
Drs. Djoko
Widagdho, dkk, Ilmu Budaya Dasar, (Jakarta:Bumi Aksara, 1991), hlm. 145
Komentar
Posting Komentar